Moslem Articles

Perbincangan saya dengan seorang Atheis di negara Cina

Posted on

Bulan lalu saya mendapat tugas ke Beijing selama 4 hari, selama disana saya ditemani oleh orang local. Selama ini saya mengetahui bahwa Cina adalah penganut komunis, sehingga terpancing ingin mendengar sendiri pengakuan orang Cina paham atheis (Komunis) yang mereka anut selama ini. Perbincangan ini hanya sebatas ingin mendengarkan pengakuan dari seorang Atheis. The point is, saya bersyukur kepada Allah telah memberikan saya iman.

Berikut beberapa perbincangan saya sebut saja Mr.X.

Saya       : Apakah anda menganut agama?

Mr.X      : Di Cina, agama dilarang. Kami semua atheis.  Ada beberapa suku minoritas yang menganut agama spt Islam, Budha, dll.

Saya       : Bagaimana pendapat anda terhadap Agama?

Mr.X      : Tuhan tidak ada, buat apa agama? Agama membuat hidup kami susah, contoh Islam, yang harus sholat 5 kali tiap hari, Kristen yang harus ke Gereja, Budha yang harus ke Temple. Lebih enak kami yang bebas terhadap hal-hal seperti itu.

Saya       : (tersenyum)

Mr.X      : Kalau saya sakit, tinggal ke dokter. Kalau saya ingin mendapatkan uang, saya bekerja. Pemerintah Cina memberikan semua fasilitas untuk kami.

Saya       : Manusia berasal darimana? Anda, teman-teman anda diciptakan oleh siapa?

Mr.X      : Saya dilahirkan oleh Ibu saya, Ibu saya dilahirkan oleh Nenek saya, dst. Kami tidak diciptakan oleh siapapun, mungkin kami berasal dari manusia purba (sambil tertawa).

Saya       : (Baru ingat mengenai 1 anak untuk 1 keluarga). Bagaimana mengendalikan kelahiran jika pemerintah menerapkan 1 anak untuk 1 keluarga? Bukankah saat ini penduduk Cina terbesar di dunia?

Mr.X      : Semua RS menyediakan fasilitas aborsi. Aborsi disini legal, dan gratis di setiap RS Pemerintah. Disini anak lelaki lebih dihargai, jadi kalau hamil anak wanita, kami akan lakukan aborsi di RS dan seterusnya begitu hingga mendapat anak lelaki.

Saya       : (Teringat masa Jahiliyah)…

Mr.X      : (Melanjutkan). Perekonomian Cina sangat bagus. Bahkan Negara Amerika meminjam dana dari kami. Artinya adalah ekonomi Komunis telah terbukti bagus di jaman krisis saat ini, harusnya semua Negara menganut system Komunis.

Saya       : (tersenyum)..mengingat Negara kita bukan apa-apa dibanding Cina  😦

Wah ternyata waktu telah menunjukan jam 8 malam (baru magrib), saya pamit dengan Mr.X untuk segera kembali ke Hotel (Sholat Magrib). Kami akan bertemu lagi jam 9 malam di Lobi Hotel.

Saya akan lanjutkan perbincangan kami mengenai paham Atheis di Negara Tirai Bambu.

E-book: Dialog Maryam Jamilah dengan Syeikh Abul A’la al-Maududi

Posted on Updated on

Wah sudah lama rasanya saya belum update lagi blog ini dengan Islam Artikel.

Beberapa hari lalu saya mendapat artikel yang menarik dari teman mengenai seorang wanita yahudi yang masuk Islam, saya telah upload e-book yang berisi dialog Maryam Jamilah dengan Syeikh Abul A’la al-Maududi (Ulama besar Pakistan) yang akhirnya mengantar Maryam Jamilah untuk bersyahadat.

 

Download disini ya. (jangan lupa rename dari *.doc menjadi *.chm)

 

Selamat membaca. 

 

Marhaban Yaa Ramadhan 1429H

Posted on Updated on

Marhaban yaa Ramadhan,

Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, tidur kita menjadi ibadah, amal kita diterima dan do’a kita di ijabah. Ya Rabb, berkahilah kami pada bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan, Amin.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan setan dibelenggu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Diantara keutamaan-keutamaan Ramadhan adalah antara lain, pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” [Al-Qadar: 1-5]

Di bulan Ramadhan juga dosa-dosa kita dihapuskan, sebagaimana sabda Baginda Rasulullah, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah]

Semoga Allah memberikan karunia kita umur panjang untuk disampaikan di bulan Ramadahan tahun ini.

Kami sekeluarga mohon maaf lahir dan batin, semoga kita diberi kesempatan untuk menuntaskan ibadah suci di bulan Ramadahan 1419H dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan.

Wassalam.
Deddy dan keluarga

Hari Valentine dalam pandangan Islam

Posted on Updated on

Di bulan Februari ini coba deh kamu jalan-jalan ke mal-mal, toko buku-toko buku, coba perhatikan di sekeliling anda, diatap-atap or langit-langit terpampang gambar warna merah jambu, ada yg berbentuk dua buah hati jambu, kayaknya sih meriah banget…apalagi pas kamu kamu sedang bersama pasangan, wuih kelihatan romantis banget.

Tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa kasih sayang.

Sejarah Valentine

Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani.Kisahnya bermula ketika raja Claudius II (268 – 270 M) mempunyai kebijakan yang melarang prajurit-prajurit-nya untuk menikah. Menurut raja Claudius II, bahwa dengan tidak menikah maka para prajurit akan agresif dan potensial dalam berperang.Kebijakan ini ditentang oleh Santo Valentine dan Santo Marius, mereka berdua secara diam-diam tetap menikahkan para parujurit dan muda-mudi, lama-kelamaan tindakan mereka diketahui oleh raja Claudius, sang rajapun marah dan memutuskan untuk memberikan sangsi kepada Valentine dan santo Marius yaitu berupa hukuman mati.

Setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, orang-orang selalu mengingat kedua santo tersebut dan merayakannya sebagai bentuk ekspresi cinta kasih Valentine, dua-ratus tahun kemudian yaitu tahun 496 Masehi setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, Paus Galasius meresmikan tanggal 14 Pebruari 496 sebagai hari Velentine.
Itulah sejarah hari Valentine yang ternyata untuk mengenang dan memperingati dua orang suci Kristen Katolik yang mengorbankan jiwanya demi kasih sayang.Ada versi lain tentang sejarah Valentine, yaitu pada masa Romawi Kuno, tanggal 14 Pebruari merupakan hari raya untuk memperingati dewi Juno, dewi Juno adalah ratu dari segala dewa dan dewi, orang-orang Romawi kuno juga meyakini bahwa dewi Juno adalah dewi bagi kaum perempuan dan perkawinan.

Pada tanggal 14 Pebruari orang-orang Romawi kuno mengadakan perayaan untuk memperingati Dewi Juno dengan cara memisahkan kaum laki-laki dan perempuan. Nama-nama remaja perempuan ditulis pada potongan kertas lalu digulung dan dimasukkan ke dalam botol, setelah itu para laki-laki mengambil satu kertas sebagai, setiap laki-laki akan mendapatkan pasangan sesuai nama yang didapat dalam undian tersebut, bila kemudian mereka ada kecocokan maka mereka akan melangsungkan pernikahan dihari-hari berikutnya “Cupid” (bayi bersayap dengan panah)” putra Nimrod “the hunter” dewa matahari, dan Dewa Cinta yang sering disebut Dewa Amor, yang mana mereka adalah dewa-dewa yang disembah oleh bangsa Romawi.  Di hari Valentine atribut dan aksesoris mereka banyak digunakan di hari Valentine. Dalam Islam ini adalah cerminan aqidah syirik yang harus ditinggalkan jauh-jauh. Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik.  

Dalam Pandangan Islam 

Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini (http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=71). Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam. 

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6) 

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (Q.S Al An’aam : 116)  

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.S Al Israa’ : 36) 

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”(al Baqarah :120) 

“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi). 

Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Kesetiaan Suami

Posted on Updated on

Suatu hari, seorang nenek datang menemui Rasulullah SAW. Rasulullah bertanya, ”Siapakah Anda wahai nenek?” ”Aku adalah Jutsamah al-Muzaniah,” jawab wanita tua itu. Rasulullah SAW berkata, ”Wahai nenek, sesungguhnya aku mengenalmu, engkau adalah wanita yang baik hati, bagaimana kabarmu dan keluargamu, bagaimana pula keadaanmu sekarang setelah kita berpisah sekian lama?”

Nenek itu menjawab, ”Alhamdulillah kami dalam keadaan baik. Terima kasih, Rasulullah.” Tak lama setelah nenek pergi meninggalkan Rasulullah SAW, muncullah Aisyah RA seraya berkata, ”Wahai Rasulullah SAW, seperti inikah engkau menyambut dan memuliakan seorang wanita tua?” Rasulullah menimpali, ”Iya, dahulu nenek itu selalu mengunjungi kami ketika Khadijah masih hidup. Sesungguhnya melestarikan persahabatan adalah bagian dari iman.”

Karena kejadian itu, Aisyah mengatakan, ”Tak seorang pun dari istri-istri nabi yang aku cemburui lebih dalam selain Khadijah, meski aku belum pernah melihatnya, namun Rasulullah SAW seringkali menyebutnya. Suatu kali beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dagingnya dan membagikan kepada sahabat-sahabat karib Khadijah.” Rasulullah SAW menanggapinya dan berkata, ”Wahai Aisyah, begitulah realitanya. Sesungguhnya darinya aku memperoleh anak.”

Dalam kesempatan lain, Aisyah berkata, ”Aku sangat cemburu pada Khadijah karena sering disebut Rasulullah SAW, sampai-sampai aku berkata, wahai Rasulullah, apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang pipinya kemerah-merahan itu, sementara Allah SWT telah menggantikannya dengan wanita yang lebih baik?”

Rasulullah SAW menjawab, ”Demi Allah SWT, tak seorang wanita pun lebih baik darinya. Ia beriman saat semua orang kufur, ia membenarkanku saat manusia mendustakanku, ia melindungiku saat manusia kejam menganiayaku, Allah SWT menganugerahkan anak kepadaku darinya.” Kecantikan Aisyah ternyata tidak begitu saja memperdayakan Rasulullah SAW untuk melupakan jasa baik dan pengorbanan Khadijah, betapapun usianya yang lebih tua.

Itulah sepenggal kisah tentang kesetiaan hakiki, bukan kesetiaan semu. Kesetiaan imani, bukan materi. Kesetiaan yang dilandasi rasa cinta kepada Allah SWT, bukan cinta nafsu setani. Kesetiaan suami kepada istri yang telah lama mengarungi rumah tangga dalam segala suka maupun duka.

Haji dan Si Miskin

Posted on Updated on

Pada suatu masa, Abdullah bin Mubarak berangkat haji bersama kafilah haji, ia melewati berbagai daerah hingga ayam yang mereka bawa ada yang mati.Abdullah bin Mubarak lalu menyuruh seseorang untuk melemparkannya ke tempat sampah. Setelah dilempar, tiba-tiba datanglah seorang perempuan mengambil ayam yang mati tersebut. Abdullah bin Mubarak terheran dan menanyakan alasan kenapa ia sudi mengambil bangkai tersebut.Sang perempuan ini menceritakan bahwa mereka melakukannya dengan sangat terpaksa karena mereka tidak mendapatkan makanan sejak beberapa hari. Mendengar penjelasan perempuan ini, Abdullah bin Mubarak memberikan biaya hajinya lalu ia kembali ke kampungnya. Ia mengatakan, ”Ini lebih baik daripada haji kita tahun ini.” (dari kitab Hilyatul Auliya). Demikianlah para ulama terdahulu, mereka sangat berusaha mencari amalan yang paling besar pahalanya dan paling dicintai Allah SWT. Bagi mereka memberi makan orang kelaparan adalah sebuah kewajiban, sedangkan melaksanakan ibadah haji yang kedua dan seterusnya adalah sunah. Sehingga, mereka mengedepankan hal yang lebih utama daripada hal yang penting.Membantu orang miskin juga termasuk jihad di jalan Allah, betapa banyak orang-orang miskin yang tidak menerima uluran tangan kemudian masuk ke agama lain yang lebih menggiurkan dan menjanjikan. Jihad di jalan Allah ini lebih utama daripada haji setiap tahunnya. Allah menyindir hal ini dengan firman-Nya: ”Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah. Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. (QS Attaubah [9]:19-20).

Jamaah haji sebelum berangkat hendaklah melihat orang-orang di sekelilingnya, masih adakah mereka yang menderita kemiskinan di sekitarnya. Kemiskinan yang menimpa sebagian bangsa ini, tampaknya akan berkurang jika setiap jamaah haji menyantuni misalnya dua hingga lima orang, jika jumlah jamaah haji 200 ribu orang maka penduduk miskin akan berkurang minimal 400 ribu jiwa, sebuah jumlah yang sangat besar. Dengan ini jamaah haji akan mendapat dua pahala sekaligus yaitu pahala haji dan pahala menolong sesama.

Sumber: republika.co.id

Ibadah Qurban

Posted on Updated on

Ibadah Qurban  

Qurban dalam istilah fikih adalah Udhiyyah yang artinya hewan yang disembelih waktu dhuha, yaitu waktu saat matahari naik. Secara terminologi fikih, udhiyyah adalah hewan sembelihan yang terdiri onta, sapi, kambing pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasriq untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kata Qurban artinya mendekatkan diri kepada Allah, maka terkadang kata itu juga digunakan untuk menyebut udhiyyah.

Dalam al-Qur’an dikisahkan:
 37. 102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
37. 103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
37. 104. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
37. 105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Yang dimaksud dengan “membenarkan mimpi” ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.
37. 106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
37. 107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar[1286]. [1286] Sesudah nyata kesabaran dan keta’atan Ibrahim dan Ismail a.s. maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari Raya Haji.
Pada masa jahilyah Arab, kaum Arab mempersembahkan lembu dan onta ke Ka’bah sebagai qurban untuk Tuhan mereka. Ketika Islam turundiluruskanlah tradisi tersebut dengan ayat Allah:5. 2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya dan binatang-binatang qalaa-id , dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu.

Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu:
1.     Nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim dengan seekor domba.
2.     Nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya.  
Dalam hadist riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Zaid bin Arqam, suatu hari Rasulullah ditanyai “untuk apa sembelihan ini?” belian menjawab: “Ini sunnah (tradisi) ayah kalian nabi Ibrahim a.s.” lalu sahabat bertanya:”Apa manfaatnya bagi kami?” beliau menjawab:”Setiap rambut qurban itu membawa kebaikan” sahabat bertanya: “Apakah kulitnya?” beliau menjawab: “Setiap rambut dari kulit itu menjadi kebaikan”.

Dalil-dalil qurban:

1. Firman Allah dalam surah al-Kauthar: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”. Ayat ini boleh dijadikan dalil disunnahkannya qurban dengan asumsi bahwa ayat tersebut madaniyyah, karena ibadah qurban mulai diberlakukan setelah beliau hijrah ke Madinah.

2. Hadist riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik r.a.:”Rasulullah berqurban dengan dua ekor domba gemuk bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangan beliau dengan membaca bismillah dan takbir, beliau menginjakkan kakinya di paha domba”.

Hukum Qurban:

1. Mayoritas ulama terdiri antar lain: Abu Bakar siddiq, Uamr bin Khattab, Bilal, Abu Masud, Said bin Musayyab, Alqamah, Malik, Syafii Ahmad, Abu Yusuf dll. Mengatakan Qurban hukumnya sunnah, barangsiapa melaksanakannya mendapatkan pahala dan barang siapa tidak melakukannya tidak dosa dan tidak harus qadla, meskipun ia mampu dan kaya. Qurban hukumnya sunnah kifayah kepada keluarga yang beranggotakan lebih satu orang, apabila salah satu dari mereka telah melakukannya maka itu telah mencukupi. Qurban menjadi sunnah ain kepada keluarga yang hanya berjumlah satu orang. Mereka yang disunnah berqurban adalah yang mempunyai kelebihan dari kebutuhan sehari-harinya yang kebutuhan makanan dan pakaian.

2. Riwayat dari ulama Malikiyah emngatakan qurban hukumnya wajib bagi mereka yang mampu.

Adakah nisab qurban? Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran seseorang disunnahkan melakukan qurban. Imam Hanafi mengatakan barang siapa mempunyai kelebihan 200 dirham atau memiliki harta senilai itu, dari kebutuhan tinggal, pakaian dan kebutuhan dasarnya.Imam Ahmad berkata: ukuran mampu quran adalah apabila dia bias membelinya dengan uangnya sendiri walaupun uang tersebut didapatkannya dari hutang yang ia mampu membayarnya.Imam Malik mengatakan bahwa ukuran seseorang mampu qurban adalah apabila ia mempunyai kelebihan seharga hewan qurban dan tidak memerlukan uang tersebut untuk kebutuhannya yang mendasar selama setahun. Apabila tahun itu ia membutuhkan uang tersebut maka ia tidak disunnahkan berqurban.Imam Syafii mengatakan: ukuran mampu adalah apabila seseorang mempunyai kelebihan uang dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya, senilai hewan qurban pada hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq.

Keutamaan qurban:

1. Dari Aisyah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda:”Amal yang paling disukai Allah pada hari penyembelihan adalah mengalirkan darah hewan qurban, sesungguhnya hewan yang diqurbankan akan datang (dengan kebaikan untuk yang melakukan qurban) di hari kiamat kelak dengan tanduk-tanduknya, bulu dan tulang-tulangnya, sesunguhnya (pahala) dari darah hewan qurban telah datang dari Allah sebelum jatuh ke bumi, maka lakukanlah kebaikan ini”.(H.R. Tirmidzi).

2. Hadist Ibnu Abbas Rasulullah bersabda:”Tiada sedekah uang yang lebih mulia dari yang dibelanjakan untuk qurban di hari raya Adha”(H.R. Daruqutni).

Waktu penyembelihan Qurban

Dari Jundub r.a. :Rasulullah melaksanakan sholat (idulAdha) di hari penyembelihan, lalu beliau menyembelih, kemudian beliau bersabda:”Barangsiapa menyembelih sebelum sholat maka hendaknyha ia mengulangi penyembelihan sebagai ganti, barangsiapa yang belum menyembelih maka hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim). Imam Nawawi menegaskan dalam syarah sahih Muslim bahwa waktu penyembelihan sebaiknya setelah sholat bersama imam, dan telah terjadi konsensus (ijma’)ulama dalam masalah ini. Ibnu Mundzir juga menyatakan bahwa semua ulamasepakat mengatakan tidak boleh menyembelih sebelum matahari terbit. Adapunsetelah matahari terbit, Imam Syafi’i dll menyatakan bahwa sah menyembelih setelah matahari terbit dan setelah tenggang waktu kira-kira cukup untukmelakukan sholat dua rakaat dan khutbah. Apabila ia menyembelih pada waktu tersebut maka telah sah meskipun ia sholat ied atau tidak.Imam Malik berkata: waktu penyembelihan adalah setelah sholat ied dan khutbah. Imam Ahmad berkata: waktunya adalah setelah sholat ied.

Menyembelih di malam hari

Menyembelih hewan qurban di malam hari hukumnya makruh sesuai pendapat Imam Syafii. Bahkan menurut imam Malik dan Ahmad: menyembelih pada malam hari hukumnya tidak sah dan menjadi sembelihan biasa, bukan qurban.

Hewan yang disembelih:

Imam Nawawi dalam syarah sahih Muslim menegaskan telah terjadi ijma’ ulama bahwa tidak sah melakukan qurban selain dengan onta, sapi dan kambing. Riwayat dari Ibnu Mundzir Hasan bin Sholeh mengatakan sah berqurban dengan banteng untuk tujuh orang dan dengan kijang untuk satu orang. Adapun riwayat dari Bilal yang mengatakan: “Aku tidak peduli meskipun berqurban dengan seekor ayam, dan aku lebih suka memberikannya kepada yatim yang menderita daripada berqurban dengannya”, maksudnya bahwa beliau melihat bahwa bersedekah dengan nilai qurban lebih baik dari berqurban. Ini pendapat Malik dan Tsauri.Begitu juga riwayat sebagian sahabat yang membeli daging lalu menjadikannya qurban, bukanlah menunjukkan boleh berqurban dengan membeli daging, melainkan itu sebagai contoh dari mereka bahwa qurban bukan wajib melainkan sunnah.

Makan daging qurban

Hukum memakan daging qurban yang dilakukan untuk dirinya sendiri, apabila qurban yang dilakukan adalah nadzar maka haram hukumnya memakan daging tersebut dan ia harus menyedekahkan semuanya. Adapun qurban biasa, maka dagingnya dibagi tiga, sepertiga untuk dirinya dan keluarganya, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga untuk disedekahkan. Membagi tiga ini hukumnya sunnah dan bukan merupakan kewajiban. Qatadah bin Nu’man meriwayatkan Rasulullah bersabda: “Dulu aku melarang kalian memakan dagingqurban selama tiga hari untuk memudahkan orang yang datang dari jauh,tetapi aku telah menghalalkannya untuk kalian, sekarang makanlah,janganlah menjual daging qurban dan hadyu, makanlah, sedekahkanlah danambilah manfaat dari kulitnya dan janganlah menjualnya, apabila kalianmengharapkan dagingnya maka makanlah sesuka hatimu”(H.R. Ahmad). Sebaiknya dalam dalam melakukan qurban, pelakunyalah yang menyembelih dan tidak mewakilkannya kepada orang lain. Apabila ia mewakilkan kepada orang lain maka sebaiknya ia menyaksikan.

Sumber : http://www.pesantrenvirtual.com
Oleh Ustadz Muhammad Niam